Kamis, 06 Juni 2013

Antara Musang dan Bunglon

untuk bunglon yang berubah ubah =))

selamat kapan saja sayang :)
bunglonku sayang. inget beberapa hal ini yaaa..
kamu gaperlu mikirin hal apapun yang gapenting dibalik kita,
apalagi hal kecil kaya jerawat di atas bibir musang yang selalu gatel buat "dipocelin" :D
karena semesta mendukung kita buat hidup bersama, walaupun emang sesaat.
tapi musang lebih menghargai waktu sebentar itu, karena itu bahagia.
daripada lama tapi ga bahagia ? ya kan lon ?
dan inget selalu omonganku kalo
cinta dan kamu itu bukan hal yang bisa dijadiin pilihan
toh buktinya semesta masih memilih kita buat bareng bareng :)
dan selama apapun itu, aku tetep mau apa yang kamu mau.
aku ikhlas kok :) selama aroma badanmu (termasuk yg masih belum mandi) 
itu still smells like heaven for me
selama kornet ma ling itu masih jadi kornet terenak sepanjang masa
selama benny, kimmy, pulung, sama becky masih suka pasang tampang oon
selama itu pula perasaan aku yang sederhana ini nemenin kamu.
walaupun sampe detik ini cukup aku liat kamu nangis sekali depan aku
dan mindset yang berbahaya ini masih ada di pikiran aku lg dlm proses penghancuran
selama itu pula aku gapernah bisa jauh dari kamu =)
karena dari dulu sampe sekarang aku masih suka tidur di pangkuan kamu,
dari dulu sampe sekarang aku masih suka ngeliat pas kamu buka mata seabis bangun tidur
selama itu pula aku tetep bisa ngejalanin hal ini BERDUA sama kamu
ya walaupun musang sendiri pun kadang kadang masih ngerasa takut.
tapi ya whatever lah ya, we'd still stick up together =)
dan semoga aku gapernah jadi ganjil selama aku genap bareng sama kamu


PS : bae da sakali kali mah teu nanaon =)))

untuk musang yang tukang tidur :p

Yes, selamat jam berapapun kamu atau aku baca (artikel gila) ini :D
musang kesayanganku, aku bakal nginget wejangan2 mu diatas itu,
tapi kamu inget pesen-pesenku yang ini yaa ..
aku ga pernah sibuk mikirin jerawat diatas bibirmu itu, aku prefer urus KUMISmu itu :))))
semoga kamu selalu ada acara keluarga yang mengharuskan kamu cukur kumis =)))
kamu harus tau, aku SELALU menikmati tiap saat bareng kamu
dimanapun itu
selama aku liat kamu, aku pasti bahagia, apalagi kalo berhasil bikin kamu ketawa
rasanya surga :)
kamu tau persis betapa aku suka setiap hal dari kamu, termasuk hanya sebuah kata "apah?"
eh tapi, ga semua hal, karena aku ga suka ROKOK mu itu >.<
aku tau ada banyak pecahan kaca disekitar kita, tapi aku ga takut, karena kamu gendut
aku bisa minta gendong buat lewatin itu semua :D
tapi ini serius, aku ga pernah mau melihat apa yang ada di kanan, kiri dan belakang kita
aku cuma mau tau SEKARANG aku jalan beriringan sama kamu
menikmati setiap detik yang semesta kasih sama kita untuk barengan
selama kamu masih suka nasi blueband buatan aku, aku tetep kenal kamu hahaha
dan selama namaku masih Dewi Nur Anggita, aku pasti selalu sayang kamu :*

PS : Salam sayang berlebihan buat my Petro :*

** ini merupakan cerita nyata, bukan penggalan novel ataupun film **

sincerely, 
Musang dan Bunglon yang selalu saling sayang :)

Selasa, 04 Juni 2013

Cerita Sahabat Bayangan

Aku punya sahabat bayangan. Tak perlulah ku sebutkan namanya. Aku hanya ingin berbagi ceritanya.

Kemarin malam ia datang dan bercerita. Rautnya tak seceria biasanya, kelucuan yang biasanya ia timbulkan juga terasa terkunci entah dimana. Aku hanya mampu bertanya padanya, "Kamu kenapa? Kamu nampak jauh dari kamu yang biasanya." lalu ia mulai tertunduk lemah. Kemudian bercerita.

"Kamu tau kan pacarku?" Tanyanya padaku, aku hanya mengangguk. Ekspresinya kembali lesu, menarik nafas dan melanjutkan ceritanya. "Aku sedang kecewa padanya." terangnya singkat. Aku hanya diam membiarkan ceritanya mengalir. Ia dan pacarnya sudah hampir 4 tahun menjalin hubungan. Aku tau, ada banyak sekali hal yang (nampaknya) mampu mengasah hubungan mereka menjadi semakin kokoh semakin hari. Aku tak pernah membayangankan akan ada akhir diantara hubungan mereka. Selama ini mereka nampak begitu solid dan saling melengkapi.

Namun, malam kemarin, aku cukup tercengang dengan ceritanya. Hubungannya sedang dipertaruhkan. Ia dan pacarnya sama-sama selingkuh ! Ia bilang, sejauh ini baru ia yang tau bahwa pacarnya --calon suami lebih tepat rasanya, karena mereka berdua telah bertunangan-- memiliki perempuan lain yang ia cintai. Hubungannya dengan lelaki lain belum diketahui calon suaminya.

Aku hanya diam kehilangan kata-kata mendengar apa yang terjadi dalam hidup sahabatku ini. Ia bilang, ia sangat sayang keduanya, sayang calon suaminya itu dan sayang pacarnya (kita sebut ini sajalah ya untuk lelaki lain yg sahabatku cintai ini). Aku tak tau harus berkomentar apa. Ia bilang, sudah sejak lama ia punya feeling lain tentang calon suaminya itu, sampai takdir mempertemukan ia dengan pacarnya, membuat segalanya mengalir begitu saja dan perlahan kehilangan rasa sayang pada calon suaminya.

Aku menyaksikan jelas bagaimana ia merangkai mimpi-mimpi tentang masa depan bersama calon suaminya itu, betapa dulu ia sangat sayang pada calon suaminya. Sekarang, aku lihat raut-raut itu mulai pudar dari wajahnya. Memang begitu yang ia bilang, ia kehilangan keyakinan akan rencana-rencana masa depan yang ia sudah rangkai. Ia juga bilang, pacarnya sangat hebat, laki-laki itu hatinya sungguh kuat, mampu tetap membuka mata melihat kenyataan bahwa sahabatku ini sudah punya calon suami namun rasa sayang yang ia berikan tak pernah berkurang, bahkan ketika sahabatku kecewa seperti sekarang ini, lelaki itu tetap memberinya dukungan dan berjanji terus memegangi tangan sahabatku ini.

Ahh, ini semacam rubiks, sisi satu dengan yang lainnya merekat begitu kuat, namun dapat dengan mudah dibuat tak beraturan. Butuh waktu dan usaha untuk memperbaiki semuanya. Aku seperti belajar hal besar dari kisah sahabatku ini, sikap baik itu tak akan selamanya bertahan. Waktu kebersamaan yang begitu lamapun tak dapat menjadi jaminan segalanya akan berlangsung baik-baik saja. Rasanya aku mulai takut menaruh hati sepenuhnya pada orang lain sekalipun yang sangat aku sayangi.

Suara Tanpa Dusta

Aku pernah sangat teguh disini
Demi rasa
Aku pernah sakit hingga terkulai
Dan tetap bertahan

Waktu yang telah kita lewati berdua
Membuat aku percaya
Tawa dan pedih yang mengiringi
Mampukan aku berdiri

Hari-hari berwarna kini berganti
Perlahan menjadi kelabu
Entah siapa yang mengawali
Aku hanya mampu mematri

Aku tak sedih, tak juga terluka
Aku hanya kecewa
Aku terdunduk renungi kenyataan
Aku hanya bungkam

Kini aku terus berusaha
Mencari sebuah keyakinan
Akankah aku kembali bertahan
Ataukah menyerah dan pulang